DINASTI UMMAYAH II: PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
DINASTI UMMAYAH II: PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
assalamualikum sahabat blogger, ini adalh postingan blog saaya yang pertama maklum ya kalau masih berantakan. gak perlu kenalan ya dalam postingan ini sudah ada nama kok.. hehee.... langsung aja deh kita akan di bahas mengenai sejarah peradaban islam, pastinya sudah tidak asing lagi ya bagi para pembaca, sejarah peradaban islam ini sudah kita pelajari dari MI mungkin ya sampai di perguruan tinggi pun masih ada juga khususnya bagi mahasiswa jurusan Tarbiyah di kampus IAIN.
assalamualikum sahabat blogger, ini adalh postingan blog saaya yang pertama maklum ya kalau masih berantakan. gak perlu kenalan ya dalam postingan ini sudah ada nama kok.. hehee.... langsung aja deh kita akan di bahas mengenai sejarah peradaban islam, pastinya sudah tidak asing lagi ya bagi para pembaca, sejarah peradaban islam ini sudah kita pelajari dari MI mungkin ya sampai di perguruan tinggi pun masih ada juga khususnya bagi mahasiswa jurusan Tarbiyah di kampus IAIN.
DINASTI UMMAYAH DI SPANYOL, DINASTI FATIMIYAH DAN PERANG SALIB
oleh:
ROIZAH
B. PEMBAHASAN
1.
Kerajaan
Islam di Spanyol
Spanyol
diduduki Islam pada masa khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah
dari Bani Ummayah yang berpusat di Damaskus.[1]
Sebelum penaklukan
Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai propinsi
dari dinasti Bani Ummayah. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga
pahlawan yang paling berjasa memimpin satuan pasukan ke Spanyol. Mereka adalah
Tharif ibn Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
Tharif
dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyebrangi selat yang berada
di antara Maroko dan Benua Eropa. Thariq Bin Ziyad lebih dikenal sebagai
penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dan lebih nyata. Pasukannya terdiri
dari sebagian besar suku Barbar yang didukng oleh Musa Ibn Nushair dan sebagian
lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian
menyebrangi selat di bawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad.
Sebuah
gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya
dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dalam pertempuran di suatu tempat
yang bernama Bakkah, raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya
terus menaklukan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul
pada masa pemerintahan khalifah
Umar Ibn Abdul Aziz tahun 99 H/717 M. Sasaran
ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis
Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada As-Salamah, tetapi usahanya itu
gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H.[2]
Proses
penaklukan Spanyol sendiri oleh umat Islam terjadi relatif mudah, hal itu
disebabkan oleh adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal, yaitu adanya dukungan dari
penduduk setempat kepada umat Islam. Pada masa penaklukan Spanyol, kondisi
sosial-politik negeri itu sangat menyedihkan, penguasa Ghotik tidak toleran
terhadap agama yang dianut oleh rakyatnya terutama agama Yahudi.
Disamping
itu, rakyat juga terbagi oleh kelas-kelas yang diliputi kemiskinan. Faktor eksternalnya
adalah kondisi yang terdapat dalam tubuh umat Islam, pada saat itu Bani Ummayah
memiliki pasukan yang tangguh dan percaya diri dan menunjukan sikap toleransi,
persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap ini menyebabkan penduduk Spanyol
menerima kehadiran Islam disana. [3]
a. Periode
keamiran Ummayah
1. Abdurrahman
I
Pada
periode ini Spanyol dipimpin oleh seorang penguasa yang bergelar Amir (panglima
atau gubernur). Amir pertama adalah Abdurrahman I pada tahun 755 M Abdurrahman
tiba di Spanyol. Abdurrahman berhasil memenangkan peperangan di Masarrat
sehingga ia menduduki tahta kekuasaan Spanyol sebagai bagian dari kekuasaan
dinasti Ummayah di Damskus.
2. Hisyam
I (172-180 H/788-789 M)
3. Hakam
(180-207H/796-822M)
4. Abdurrahman
II (207-238H/822-852M)
5. Muhammad
I (238-273H/853-886M)
6. Munzir
(273-275H/886-888M)
7. Abdullahh
(275-300H/888-912M)
b. Periode
kekhalifahan Ummayah di Spanyol
1. Abdurrahman
II (300-350H/912-961M)
2. Hakam
II (350-366H/961-976M)
3. Hisyam
II
4. Sulaiman
2.
Kemunduran
Dinasti Ummayah Di Spanyol
Bahwa sepeninggalan Hakam II, tidak ada khalifah
yang cakap. Mereka tidak dapat menghentikan krisis politik dalam negeri yang
sedang menggejala. Pada masa Hisyam II, Hajib al- Manshur justru memegang kendali
pemerintahan. Sekalipun dibawah kepimpinan sang Hajib negara banyak mencapai
kemajuan, namun hal ini merupakan awal dari melemahnya otoritas kekhalifahan
dan awal munculnya permusuhan internal.[4]
Kemajuan
militer Hajib al-Manshur menimbulkan kecemasan negara-negara tetangga yang
mayoritas penganut Kristen. Sehingga kehidupan negara Muslim Spanyol tidak
pernah berhenti dari pertentangan antara pihak Muslim dengan pihak Kristen.
Pemeluk-pemeluk Islam yang baru tidak dapat menerima aristokrasi kearaban. Maka
mereka ini merupakan pihak pertama yang menentang kekhalifahan Ummayah.
Bahwa pasukan muslim telah menyita harta milik
orang-orang kaya di Spanyol. Selama masa itu, umat Islam tidak mengembangkan harta
kekayaan tersebut secara baik, yang mengakibatkan merosotnya income negara.
Perselisihan antara kaum industrialis dan kaum proletar juga turut mengganggu
ekonomi negara.
Selain sebab-sebab diatas, terdapat sebab-sebab
eksternal yakni serangkaian serangan kekuatan suku-suku Kristen di wilayah
Spanyol Utara. Dalam setiap penyerangan mereka berusaha menghancurkan kekuatan
muslim dengan membantai umat Islam Spanyol. Imperium Islam di Spanyol tidak didirikan
berdasrkan rasa kebangsaan. Akibatnya imperium ini terpecah menjadi sejumlah
kelompok yang saling bertentangan sehingga mempercepat kehancuran pemerintahan
Muslim di Spanyol.[5]
3.
Kontribusi
Ilmu Pengetahuan
Hitti
mengatakan bahwa Spanyol berada dibawah kekuasaan Islam hampir delapan abad,
umat Islam Spanyol mencatat satu-satunya lembaran cemerlang dalam sejarah alam
pemikiran Eropa abad pertengahan.
Beberapa
bidang ilmu pengetahuan yang perlu di catat kemajuannya pada era Islam Spanyol:
a. Filsafat
Tokoh
pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibn
Al-Syaigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah, yang lahir di Sargosa dan
meningal di Fez pada tahun 1138 M. Karyanya yang terkenal adalah Thadbir Al Mutawahhid (The Rule Of The
Solitary), yang membicarakan usaha orang-orang yang menjauhi segala macam
keburukan masyarakat yang disebut Mutawahhid.
Ibn Bajjah juga dikenal sebagai ahli matematika, astronomi, dan musik. Ahli
filsafat lain Abu Bakar Muhammad ibn Abd al-Malik ibn Tufail al-Qaisi, dikenal
dengn ibn Tufail. Karyanya yang terkenal adalah Hayy ibn Yaqzan yang
berisikan tentang cerita filsafat dan tentang manusia yang hidup jauh dari masyarakat.
Filosof Spanyol yang lain adalah Abu Walid
Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd, dikenal dengn ibn Rusyd lahir di
Cordova pada 1126 M dan meninggal tahun 1198 M, karyanya yang terkenal adalah Tahafut al-Tahafut yang beradu
argumentasi dengan imam Al-Ghazali.
b. Sains
Sains
yang terdiri dari ilmu-ilmu kedoteran, fisika, matematika, astronomi, kimia,
botani, zoologi, ilmu obat-obatan, juga berkembang dengan baik. Beberapa tokoh
sains dalam bidang astronomi, yaitu Abbas bin Farnas, Ibrahim bin Yahya an-Naqash,
Ibnu Safar, Al-Bitruji. Dalam bidang obat-obatan, antara lain Ahmad bin Iyas.
Dalam bidang sejarah dan geografi, Spanyol Islam
juga banyak melahirkan penulis dan pemikir terkemuka dibidang ini. Ibn
al-Khatib dan sultan Granada yang meninggal pada tahun 1374 M di Fez telah
menulis buku kira-kira 60 buah seperti tentang sejarah dan ilmu bumi yang
terkenal adalah “Sejarah Granada”.
Begitu
pula Ibn Kaldun yang meninggal pada tahun 1406 M, telah menulis beberapa karya
besar yang berjudul Muqaddimah yang membicarakan tentang ilmu sejarah serta teori-teori
perkembangan sejarah. Ibn Jubair dari Valencia (1445-1228 M) menulis tentang
negri ilmu bumi “Bola Dunia” yang berputar (Globe).
c. Ilmu
Agama
Kemajuan
ilmu agama di Spanyol bermula dari kepindahan beberapa orang sahabat tabiin
bersama Musa Ibn Nusair ketika menaklukan spanyol. Diantara mereka adalah
al-Munazair, Musa Ibn Nusair, Ali Ibn Rabbah dan Hanasy Ibn Abdillah
al-Sana’ani.
Adapun
puncak kemajuan dan kejayaan ilmu Agama Islam di Spanyol di tandai oleh
munculnya ulama-ulama kenamaan masing-masing yang membidangi berbagai disiplin
ilmu Agama. Di antara mereka tercatat sebagai ahli hadist, ahli fiqh, Ahli ilmu
kalam, dan ilmu tasawuf.
Beberapa ulama Sopanyol yang termasuk dibidang
hadits adalah Ibnu Hazym, Abdullah Ibn Yasin, Muhammad ibn Timtr, Abi Al walid
al Baji, Abi Amir Yusuf ibn Abdul Albar.
Dizaman
Abdul Rahman I ilmu fiqh berkembang di Spanyol, apalagi setelah Al-Auzai’,
sebagai ulama fiqh, terkenal namnya dinegeri ini. Kemudia disusul oleh
munculnya murid-murid imam Malik yang mengembangkan fiqh gurunya. Salah seorang
murid imam Malik yang terkenal dan luas ilmunya adalah Yahya Ibn Yahya Al-Lais.
Tokoh lain di bidang fiqh adalah Isa Ibnu Dinar, ia adalah seorang ulama yang luas
pandangannya dan banyak menulis buku fiqih. Diantaranya buku yang pernah di
tulis adalah buku Al-Hidayah buku ini
dinilai oleh Ibnu Hazam sebagai buku fiqh madhab Maliki yang terbaik.
Ilmu
Agama lain yang turut mewarnai kejayaan Islam Spanyol adalah tasawuf. Diantara
tokohnya yang terkenal adalah Ibnu Masarah seorang keturunan dari kota Cordova
yang berpaham Mu’tazilah.
d. Bahasa
Dan Sastra
Bahsa
Arab di wilayah Spanyol Islam berkembang menjadi bahasa ilmiah dan bahasa resmi
negara. Diantara tokoh dibidang bahasa di zaman Spanyol Islam adalah Ibn
Sayyidin, Ibn Malik, Ibn Kurif, Ibn Al-Hajj, Abi Ali al-Isbili, Ibn Al-Hasan
Ibn Usfur dan Abi Hayan al-Ganati.
Sementara
dalam bidang sastra, puisi-puisi arab berkembang dengan suburnya. Banyak
diantara para penguasa Islam di Spanyol memiliki penyair-penyair ternama di
zamannya. Kota-kota seperti Seville, Cordova, dan Granada merupakan kota-kota
yang banyak menghimpun para penyair dan sastrawan, diantaranya adalah Ibn
Zaidun (1003-1071 M), seorang penyair utama dari keluarga bangsawan Arab di
Cordova dan penyair wanita Al Wadallah.[6]
4. Kelahiran Kerajaan Fatimiyah
Diantara
beberapa Dinasti Syi’ah di dalam Islam, dinasti Fatimiyahlah yang paling besar.
Dinasti Fatimiyah ini didirikan oleh kaum syi’ah dari sekte Ismailiah.[7]
Dinasti ini mengklaim bahwa sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali ibn
Abu Thalib dan Fatimah binti Rasulillah. Menurut mereka Abdullah Al-Mahdi
sebagai pendiri dinasti ini merupakan cucu Ismail ibn Ja’far al-Shadiq sedang Ismail
merupakan imam syi’ah yang ke tujuh.[8]
Pendirian
dinasti ini tidak bisa dilepaskan dari kekecewaan politik kaum syi’ah terhadap
pemerintahan dinasti Abbasiyah. Seiring dengan melemahnya politik Abbasiyah
yang mulai tampak sejak awal abad ke-9 M, ditandai dengan munculnya sejumlah
pimpinan yang memiliki kekuatan militer di beberapa propinsi tertentu. Situasi
yang tidak menguntungkan secara politik bagi pemerintahan Abbasiyah yang
cenderung mengalami tangga kemunduran tersebut, selanjutnya dimanfaatkan oleh
golongan syi’ah, yaitu kelompok syi’ah Ismailiah.
Syi’ah
Ismailiah yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Maymun yang membentuk syi’ah Ismailiah
sebagai sebuah sistem gerakan politik keagamaan. Secara rahasia ia mengirimkan
misionari kesegala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran syi’ah
Ismailiah. Kegiatan ini menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah di
Afrika dan kemudian berpindah ke Mesir.[9]
5. Puncak Kejayaan dan kemunduran kerajaan Fatimiyah
a. Kejayaan
Wilayah
kekuasaan dinasti Fatimiyah (909M-1171M) meliputi Afrika Utara, Mesir dan
Suriah. Dinasti ini mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Al-Aziz.
Kebudayaan berkembang pesat pada masa dinasti Fatimiyah, yang ditandai dengan
berdirinya masjid Al-Azhar. Masjid ini berfungsi sebagi pusat pengkajian Islam
dan ilmu penegtahuan. Dinasti Fatimiyah berakhir setelah Al-Azid, khalifah
terakhir dinasti Fatimiyah jatuh sakit.[10]
1. Bidang
Administrasi
Periode
dinasti Fatimiyah menandai era baru sejarah bangsa Mesir. Administrasi
kepemerintahan dinasti Fatimiyah secara garis besar tidak berbeda jauh dengan
administrasi dinasti Abasiyah, sekalipun pada masa ini muncul beberapa jabatan
yang berbeda khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan
keduniaan maupun spiritual. Khalifah berwenang mengangkat dan sekaligus
menghentikan jabatan-jabatan dibawahnya.
2. Kondisi
sosial
Mayoritas
khalifah Fatimiyah bersikap moderat dan penuh perhatian kepada urusan agama
nonmuslim. Pada masa Al-Aziz bahkan mereka lebih diuntungkan daripada umat
Islam dimana mereka ditunjuk mnduduki jabatan-jabatan tinggi di istana.
Dinasti
Fatimiyah berhasil dalam mendirikan sebuah negara yang snagat luas dan
peradaban yang berlainan semacam ini di dunia Timur. Hal ini sangat menarik
perhatian karena sistem administrasinya yang sangat baik, aktivitas artistik,
luasnya toleransi religius, efisiensi angkatan perang dan angkatan laut,
kejujuran pengadilan, dan terutama perlindungannya terhadap ilmu pengetahuan
dan kebudayaan.
3. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan kesusastraan
Sumbangan
dinasti Fatimiyah dalam kemajuan ilmu pengetahuan tidak sebesar sumbangan
Abbasiyah di Baghdad dan Ummayah di Spanyol. Diantara khalifah Fatimiyah adalah
tokoh pendidikan dan orang yang berperadaban tinggi. Al-Aziz termasuk diantara
khalifah yang mahir dalam bidang syair dan mencintai kegiatan pengajaran. Ia
telah mengubah masjid agung Al-Azhar menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi.
Khalifah
Fatimiyah mendirikan sejumlah sekolah dan perguruan, mendirikan perpustakaan
umum dan lembaga ilmu pengetahuan. Dan Al-Hikmah merupakan prakakas terbesar
untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah Fatimiyah pada umumnya juga
mencintai berbagai seni termasuk seni arsitektur. Masjid agung AL-Azhar dan
AL-Hakim menandai kemajuan arsitektur zaman Fatimiyah.[11]
b. Kemunduran
Kemunduran
dinasti Fatimiah inidisebabkan oleh beberapa fakor sebagai berikut:
1.
Figur Khalifah
yang lemah
Dalam
sejarah Khalifa Fatimiah yang pernah mengalami kejayaan terdapat beberapa
khalifah yang dianggap sebagai figur yang lemah. Kelemahan ini disebabkan oleh
beberapa hal diantaranya adalah diangkat dalam usia yang relatif muda. Ada pula
kelemahan itu karena khalifah terlena dengan kemewahan istana serta melakukan
sikap-sikap yang sewenang-wenang dan cenderung amoral, yang menyebabkan
ketidaksukaan masyarakat terhadap khalifah Fatimiah khususnya kepada
kahlifahnya.
Terdapat
beberapa khalifah yang diangkat dalam usia muda diantaranya Al-Hakim yang
diangkat dalam usia 11 tahun. Siakp kesewenangan Al-Hakim ditunjukan dengan
kebenciannya kepada orang-orang Mesir sendiri, Al-Hakim memberi tempat
orang-orang asing yang tidak jelas moralnya untuk mengurusi masalah-masalah
pemerintahan.
2. Perebutan
Kekuasaan di Tingkat Istana
Sebagai
akibat dari diangkatnya khalifah pada usia yang muda mengakibatkan peranan
wazir menjadi sangat penting dan kompetetif, sehingga perebutan kekuasaan antar
wazir tak terhindarkan lagi. Antar wazir berlomba saling menjatuhkan diantara
para wazir sendiri.
3. Konflik
Ditubuh Militer
Pada
saat Al-Aziz menjabat sebagi khalifah keempat, dia membuat kebijakan untuk
merekrut orang-orang Turki dan Negro. Kebijakan ini dilakukan untuk mengimbangi
kekuasaan para pegawal istana yang telah terlanjur membesar yang mereka ini
sebagian besar berasal dari suku Barbar yag terkenal keras. Ternyata, rekrutmen
ini menimbulkan kemelut didalam tubuh militer dan antara mereka terus-menerus
terjadi perselisiahan yang melemahkan kekuasaan Fatimiah.
4. Bencana
Alam Berkepanjangan
Faktor
lain yang ikut andil dalam melemahkan eksistensi Khalifah Fatimiah adalah
bencana alam. Pada masa Al-Muntashir, selam tujuh tahun (1065-1072 M), Mesir
ditimpa musibah kelaparan akibat kekeringan,
demikian pula penyakit merajalela kemana-mana. Musibah ini tentu
mengganggu kondisi ekonomi di pemeritahan Fatimiah.
5. Keterlibatan
Non-Islam dalam Pemerintahan
Diantara
sekian banyak khalifah Fatimiah yang terkenal memiliki andil dalam memajukan
dinasti Fatimiah adalh Al-Aziz. Diantara kebijakan Al-Aziz adalah sering
memberikan pos-pos penting dan strategis kepada oarang-orang non-Islam,
kkebijakan ini ternnyata menimbulkan kecemburuan, kejengkelan, dan bahkan
kemarahan diaklangan kaum Muslimin.[12]
6. Perang Salib
Perang
salib (The Crusades War) adalah
serangkaian perang Agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Eropa
terhadap Islam Asia. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci
Kristen di duduki Islam sejak 632 M, seperti di Suriah, Asia kecil, Spanyol,
dan Sicilia. Militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol yang menunjukan bahwa perang ini suci dan
bertujuan membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang Islam.[13]
a.
Faktor
Terjadinya Perang Salib
Secara umum ada tiga faktor utama
terjadinya perang salib itu, yaitu faktor agama, faktor politik, faktor ekonomi.
1. Faktor
Agama
Pada
tahun 417 H dinasti saljuk dapat merebut Bait al-Maqdis dari dinasti Fatimiyah
yang berkedudukan di Mesir. Sejak itu, penguasa menetapkan beberapa peraturan
bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana peraturan itu dirasakan sangat
menyulitkan mereka.
Untuk
mendapat keleluasaan umat kristen untuk dapat ziarah suci ke Baitul Maqdis
itulah Paus Urbanus II berseru untuk melakukan perang suci yang dikenal dengan
perang salib. Bagi orang-orang Kristen, dengan melakukan ziarah ke Baitul
al-Maqdis itu akan dapat menghapuskan dosa dan memperoleh kabahagiaan abadi. Pada
tahun 1095 M Paus Urbanus II berpidato dikalangan kaum Kristen dengan pidato
yang memukau yang menggema keseluruh penjuru Eropa. Inilah yang membakar
semangat umat Kristen Eropa untuk melakukan perang suci bagi mereka.
Dalam
hal ini Paus dibantu oleh seorang pendeta sebagai juru propagandanya, bernama
Peter Pertapa. Dari apa yang dilakukan oleh Paus dan Peter berhasil
membangkitkan fanatisme uamat Kristen Eropa dengan terhimpunnya suatu kekuatan
besar yang bertumpah ruah yang memasuki kota Konstantinopel pada tahun 1097 M
kemudian mereka melakukan serangkaian peperangan besar terhadap umat Islam dan
mereka berhasil merebut Yerusalem tahun 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin
III dengan rajanya Godfrey.
2. Faktor
Politik
Selain
faktor Agama, faktor politik juga cukup kental sebagai penyebab terjadinya
perang salib ini. Yaitu terutama sejak dinasti Saljuk dapat meluaskan wilayah
kekuasaannya sampai ke wilayah Bizantyum setelah pertempuran Manzikart tahun
1071 M telah mengancam kota Konstantinopel sendiri, sehingga kaesar Alexius I
terpaksa meminta bantuan Paus Urbanus II dan raja-raja Eropa Barat untuk melakukan
peperangan yang kemudian mereka sebut perang suci itu.
Pada
sisi lain, di tubuh dinasti Saljuk terjadi perpecahan disamping juga adanya
bahaya kelaparan dan wabah penyakit pada masa Khalifah al-Mutanshir, turut
menguntungkan kaum salib mendapatkan kesuksesannya merebut Bait al-Maqdis,
tanah suci mereka.
3. Faktor
ekonomi
Faktor
ekonomi dimaksud adalah bahwa para pedagang besar yang berada di pantai timur
Laut Tengah, terutama yang berada di kota Veneria, Genoa dan Pisa berambisi
untuk menguasai sejumlah kota dagang disepanjang pantai timur dan selat Laut
Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu, mereka rela
menanggung sebagian dana perang salib dengan maksud menjadikan kawasan itu
sebagai pusat perdagangan mereka.[14]
b. Periode Dalam Perang Salib
Perang salib terjadi
dalam tiga periode yaitu:
1. Periode
pertama
Tentara
salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh
kemenangan besar. Pada tanggal 15 Juni 1097 M mereka berhasil menaklukan Nicea
dan tahun 1098 M menguasi Raha (Edessa). Disini mereka mendirikan kerajaan
Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat
menguasai Antiocha dan mendirikan kerajaan latin II di Timur. Bohemond dilantik
menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait al-Maqdis (15 Juli 1099 M)
dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya Godfrey.
2. Periode
kedua
Jatuhnya
Yerussalem ketangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Kali
ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The
Lion Hart raja Inggris, dan Phillip Augustus raja Prancis. Pasukan ini bergerak
pada tahun 1189 M meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah al-Din, namun
mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan Latin.
Pada tanggal 2 Nopember 1192 M dibuat perjanjian
antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan perjanjian Shulh
ar-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang
pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu.
3. Periode
ketiga
Tentara
salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Pada tahun 1219
M mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari Ayyubiyah waktu itu
Al-Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Frederick, isinya antara lain
Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al-Malik Al-Kamil melepasakan
Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin disana dan Frederic tidak
mengirim bantuan kepada Kristen di Syiria.
Dalam
perkemabngan berikutnya, Palestina dapat direbut kambali oleh kaum Muslimin
tahun1247 M, dimasa pemerintahan Al-Malik Al-Shalih penguasa Mesir selanjutnya.[15]
c. Akibat Dari Perang Salib
Perang
salib akhirnya dimenangkan oleh umat Islam, namun demikian umat Islam mengalami
kerugian yang banyak karena peperangan tersebut terjadi diwilayah umat Islam.
Selain itu juga orang-orang Kristen memperoleh keuntungan dan pengalaman yang
cukup berarti dari kebudayaan dan peradaban Islam, misalnya mengetahui kemajuan
dunia intelektual di wilayah Islam, industri, irigasi, persenjataan, dan
lain-lain.
Selanjutnya dalam bidang militer, dunia barat
menemukan persenjataan dan teknik
berperang yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Di dalam masyarakat
Islam, peperangan salib itu lebih dikenal sebagai perang politik, sedangkan
bagi masyarakat Kristen Eropa tetap menganggap bahwa perang salib adalah perang
Agama.[16]
C. PENUTUP
a.
Kerajaan Islam
di Spanyol
Spanyol
diduduki Islam pada masa khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah
dari Bani Ummayah yang berpusat di Damaskus. Dalam proses penaklukan Spanyol
terdapat tiga pahlawan yang paling berjasa memimpin satuan pasukan ke Spanyol.
Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
b.
Kemunduran
Dinasti Ummayah di Spanyol
Bahwa sepeninggalan Hakam II, tidak ada khalifah yang cakap.
Mereka tidak dapat menghentikan krisis politik dalam negeri yang sedang
menggejala. Umat Islam tidak mengembangkan harta kekayaan tersebut secara baik,
yang mengakibatkan merosotnya income negara. Perselisihan antara kaum indu
Selain sebab-sebab diatas, terdapat sebab-sebab eksternal yakni serangkaian
serangan kekuatan suku-suku Kristen di wilayah Spanyol Utara.
c.
Kontribusi
ilmu pengetahuan
1.
Filsafat
2.
Sains
3.
Ilmu
Agama
4.
Bahasa
dan Sastra
d.
Perang Salib
Perang salib (The Crusades War) adalah serangkaian perang Agama selama hampir dua
abad sebagai reaksi Kristen Eropa terhadap Islam Asia. Militer Kristen
menggunakan salib sebagai simbol yang
menunjukan bahwa perang ini suci dan bertujuan membebaskan kota suci
Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Amin,
Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Ali,
K. 1996. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern). Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Fu’adi,
Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam dirasah islamiyah II. Yogyakarta:
Teras
Imam,
Fu’adi. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Teras
Yatim,
Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
[1] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2011), hlm. 87
[3] Imam Fu’adi, Sjarah
Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 25-26
[4]
K. Ali, Sejarah
Islam (Tarikh Pramodern), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm.
477-480
[5] Ibid., hlm.
478-480
[6] Imam Fu’adi, Op.Cit.,
hlm. 47-56
[7] Ibid., hlm.
1
[8] K. Ali, Op.Cit.,
hlm. 489
[10]
Samsul Munir
Arifin, Sejarah Peradaban islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 254
[12]Imam Fu’adi, Op.Cit.,
hlm. 9-15
[14]
Imam Fu’adi, Op.Cit.,
hlm.113-116
[15]Badri Yatim, Op.Cit., hlm. 76-79
[16]Imam Fu’adi, Op.Cit.,
hlm. 123-124
bagus... jagan lupa mampir ke blog-ku ya
BalasHapusterimakasih..
BalasHapus