DINASTI UMMAYAH II: PERADABAN ISLAM DI SPANYOL

DINASTI UMMAYAH II: PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
 assalamualikum sahabat blogger, ini adalh postingan blog saaya yang pertama maklum ya kalau masih berantakan. gak perlu kenalan ya dalam postingan ini sudah ada nama kok.. hehee.... langsung aja deh kita akan di bahas mengenai sejarah peradaban islam, pastinya sudah tidak asing lagi ya bagi para pembaca, sejarah peradaban islam ini sudah kita pelajari dari MI mungkin ya sampai di perguruan tinggi pun masih ada juga khususnya bagi mahasiswa jurusan Tarbiyah di kampus IAIN. 


DINASTI UMMAYAH DI SPANYOL, DINASTI FATIMIYAH DAN PERANG SALIB






 oleh:

ROIZAH

B.   PEMBAHASAN
1.      Kerajaan Islam di Spanyol
Spanyol diduduki Islam pada masa khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Ummayah yang berpusat di Damaskus.[1]
Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai propinsi dari dinasti Bani Ummayah. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan yang paling berjasa memimpin satuan pasukan ke Spanyol. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyebrangi selat yang berada di antara Maroko dan Benua Eropa. Thariq Bin Ziyad lebih dikenal sebagai penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dan lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukng oleh Musa Ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyebrangi selat di bawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad.
Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo. Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul  pada masa pemerintahan  khalifah Umar Ibn Abdul Aziz tahun 99  H/717 M. Sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada As-Salamah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H.[2]


Proses penaklukan Spanyol sendiri oleh umat Islam terjadi relatif mudah, hal itu disebabkan oleh adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal,  yaitu adanya dukungan dari penduduk setempat kepada umat Islam. Pada masa penaklukan Spanyol, kondisi sosial-politik negeri itu sangat menyedihkan, penguasa Ghotik tidak toleran terhadap agama yang dianut oleh rakyatnya terutama agama Yahudi.
Disamping itu, rakyat juga terbagi oleh kelas-kelas yang diliputi kemiskinan. Faktor eksternalnya adalah kondisi yang terdapat dalam tubuh umat Islam, pada saat itu Bani Ummayah memiliki pasukan yang tangguh dan percaya diri dan menunjukan sikap toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap ini menyebabkan penduduk Spanyol menerima kehadiran Islam disana. [3]
a.    Periode keamiran Ummayah
1.      Abdurrahman I
Pada periode ini Spanyol dipimpin oleh seorang penguasa yang bergelar Amir (panglima atau gubernur). Amir pertama adalah Abdurrahman I pada tahun 755 M Abdurrahman tiba di Spanyol. Abdurrahman berhasil memenangkan peperangan di Masarrat sehingga ia menduduki tahta kekuasaan Spanyol sebagai bagian dari kekuasaan dinasti Ummayah di Damskus.
2.      Hisyam I (172-180 H/788-789 M)
3.      Hakam (180-207H/796-822M)
4.      Abdurrahman II (207-238H/822-852M)
5.      Muhammad I (238-273H/853-886M)
6.      Munzir (273-275H/886-888M)
7.      Abdullahh (275-300H/888-912M)


b.    Periode kekhalifahan Ummayah di Spanyol
1.      Abdurrahman II (300-350H/912-961M)
2.      Hakam II (350-366H/961-976M)
3.      Hisyam II
4.      Sulaiman

2.      Kemunduran Dinasti Ummayah Di Spanyol
Bahwa sepeninggalan Hakam II, tidak ada khalifah yang cakap. Mereka tidak dapat menghentikan krisis politik dalam negeri yang sedang menggejala. Pada masa Hisyam II, Hajib al- Manshur justru memegang kendali pemerintahan. Sekalipun dibawah kepimpinan sang Hajib negara banyak mencapai kemajuan, namun hal ini merupakan awal dari melemahnya otoritas kekhalifahan dan awal munculnya permusuhan internal.[4]
 Kemajuan militer Hajib al-Manshur menimbulkan kecemasan negara-negara tetangga yang mayoritas penganut Kristen. Sehingga kehidupan negara Muslim Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara pihak Muslim dengan pihak Kristen. Pemeluk-pemeluk Islam yang baru tidak dapat menerima aristokrasi kearaban. Maka mereka ini merupakan pihak pertama yang menentang kekhalifahan Ummayah.
Bahwa pasukan muslim telah menyita harta milik orang-orang kaya di Spanyol. Selama masa itu, umat Islam tidak mengembangkan harta kekayaan tersebut secara baik, yang mengakibatkan merosotnya income negara. Perselisihan antara kaum industrialis dan kaum proletar juga turut mengganggu ekonomi negara.



Selain sebab-sebab diatas, terdapat sebab-sebab eksternal yakni serangkaian serangan kekuatan suku-suku Kristen di wilayah Spanyol Utara. Dalam setiap penyerangan mereka berusaha menghancurkan kekuatan muslim dengan membantai umat Islam Spanyol. Imperium Islam di Spanyol tidak didirikan berdasrkan rasa kebangsaan. Akibatnya imperium ini terpecah menjadi sejumlah kelompok yang saling bertentangan sehingga mempercepat kehancuran pemerintahan Muslim di Spanyol.[5]     

3.      Kontribusi Ilmu Pengetahuan
Hitti mengatakan bahwa Spanyol berada dibawah kekuasaan Islam hampir delapan abad, umat Islam Spanyol mencatat satu-satunya lembaran cemerlang dalam sejarah alam pemikiran Eropa abad pertengahan.
Beberapa bidang ilmu pengetahuan yang perlu di catat kemajuannya pada era Islam Spanyol:
a.    Filsafat
Tokoh pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibn Al-Syaigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah, yang lahir di Sargosa dan meningal di Fez pada tahun 1138 M. Karyanya yang terkenal adalah Thadbir Al Mutawahhid (The Rule Of The Solitary), yang membicarakan usaha orang-orang yang menjauhi segala macam keburukan masyarakat yang disebut Mutawahhid. Ibn Bajjah juga dikenal sebagai ahli matematika, astronomi, dan musik. Ahli filsafat lain Abu Bakar Muhammad ibn Abd al-Malik ibn Tufail al-Qaisi, dikenal dengn ibn Tufail. Karyanya yang terkenal adalah Hayy ibn Yaqzan  yang berisikan tentang cerita filsafat dan tentang manusia yang hidup jauh dari masyarakat.

 Filosof Spanyol yang lain adalah Abu Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd, dikenal dengn ibn Rusyd lahir di Cordova pada 1126 M dan meninggal tahun 1198 M, karyanya yang terkenal adalah Tahafut al-Tahafut yang beradu argumentasi dengan imam Al-Ghazali.
b.     Sains
Sains yang terdiri dari ilmu-ilmu kedoteran, fisika, matematika, astronomi, kimia, botani, zoologi, ilmu obat-obatan, juga berkembang dengan baik. Beberapa tokoh sains dalam bidang astronomi, yaitu Abbas bin Farnas, Ibrahim bin Yahya an-Naqash, Ibnu Safar, Al-Bitruji. Dalam bidang obat-obatan, antara lain Ahmad bin Iyas.
 Dalam bidang sejarah dan geografi, Spanyol Islam juga banyak melahirkan penulis dan pemikir terkemuka dibidang ini. Ibn al-Khatib dan sultan Granada yang meninggal pada tahun 1374 M di Fez telah menulis buku kira-kira 60 buah seperti tentang sejarah dan ilmu bumi yang terkenal adalah “Sejarah Granada”.
Begitu pula Ibn Kaldun yang meninggal pada tahun 1406 M, telah menulis beberapa karya besar yang berjudul Muqaddimah yang membicarakan tentang ilmu sejarah serta teori-teori perkembangan sejarah. Ibn Jubair dari Valencia (1445-1228 M) menulis tentang negri ilmu bumi “Bola Dunia” yang berputar (Globe).
c.    Ilmu Agama
Kemajuan ilmu agama di Spanyol bermula dari kepindahan beberapa orang sahabat tabiin bersama Musa Ibn Nusair ketika menaklukan spanyol. Diantara mereka adalah al-Munazair, Musa Ibn Nusair, Ali Ibn Rabbah dan Hanasy Ibn Abdillah al-Sana’ani.
Adapun puncak kemajuan dan kejayaan ilmu Agama Islam di Spanyol di tandai oleh munculnya ulama-ulama kenamaan masing-masing yang membidangi berbagai disiplin ilmu Agama. Di antara mereka tercatat sebagai ahli hadist, ahli fiqh, Ahli ilmu kalam, dan ilmu tasawuf.
 Beberapa ulama Sopanyol yang termasuk dibidang hadits adalah Ibnu Hazym, Abdullah Ibn Yasin, Muhammad ibn Timtr, Abi Al walid al Baji, Abi Amir Yusuf ibn Abdul Albar.
Dizaman Abdul Rahman I ilmu fiqh berkembang di Spanyol, apalagi setelah Al-Auzai’, sebagai ulama fiqh, terkenal namnya dinegeri ini. Kemudia disusul oleh munculnya murid-murid imam Malik yang mengembangkan fiqh gurunya. Salah seorang murid imam Malik yang terkenal dan luas ilmunya adalah Yahya Ibn Yahya Al-Lais. Tokoh lain di bidang fiqh adalah Isa Ibnu Dinar, ia adalah seorang ulama yang luas pandangannya dan banyak menulis buku fiqih. Diantaranya buku yang pernah di tulis adalah buku Al-Hidayah buku ini dinilai oleh Ibnu Hazam sebagai buku fiqh madhab Maliki yang terbaik.
Ilmu Agama lain yang turut mewarnai kejayaan Islam Spanyol adalah tasawuf. Diantara tokohnya yang terkenal adalah Ibnu Masarah seorang keturunan dari kota Cordova yang berpaham Mu’tazilah.
d.   Bahasa Dan Sastra
Bahsa Arab di wilayah Spanyol Islam berkembang menjadi bahasa ilmiah dan bahasa resmi negara. Diantara tokoh dibidang bahasa di zaman Spanyol Islam adalah Ibn Sayyidin, Ibn Malik, Ibn Kurif, Ibn Al-Hajj, Abi Ali al-Isbili, Ibn Al-Hasan Ibn Usfur dan Abi Hayan al-Ganati.
Sementara dalam bidang sastra, puisi-puisi arab berkembang dengan suburnya. Banyak diantara para penguasa Islam di Spanyol memiliki penyair-penyair ternama di zamannya. Kota-kota seperti Seville, Cordova, dan Granada merupakan kota-kota yang banyak menghimpun para penyair dan sastrawan, diantaranya adalah Ibn Zaidun (1003-1071 M), seorang penyair utama dari keluarga bangsawan Arab di Cordova dan penyair wanita Al Wadallah.[6]
     

         
4.      Kelahiran Kerajaan Fatimiyah
Diantara beberapa Dinasti Syi’ah di dalam Islam, dinasti Fatimiyahlah yang paling besar. Dinasti Fatimiyah ini didirikan oleh kaum syi’ah dari sekte Ismailiah.[7] Dinasti ini mengklaim bahwa sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali ibn Abu Thalib dan Fatimah binti Rasulillah. Menurut mereka Abdullah Al-Mahdi sebagai pendiri dinasti ini merupakan cucu Ismail ibn Ja’far al-Shadiq sedang Ismail merupakan imam syi’ah yang ke tujuh.[8]
Pendirian dinasti ini tidak bisa dilepaskan dari kekecewaan politik kaum syi’ah terhadap pemerintahan dinasti Abbasiyah. Seiring dengan melemahnya politik Abbasiyah yang mulai tampak sejak awal abad ke-9 M, ditandai dengan munculnya sejumlah pimpinan yang memiliki kekuatan militer di beberapa propinsi tertentu. Situasi yang tidak menguntungkan secara politik bagi pemerintahan Abbasiyah yang cenderung mengalami tangga kemunduran tersebut, selanjutnya dimanfaatkan oleh golongan syi’ah, yaitu kelompok syi’ah Ismailiah.
Syi’ah Ismailiah yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Maymun yang membentuk syi’ah Ismailiah sebagai sebuah sistem gerakan politik keagamaan. Secara rahasia ia mengirimkan misionari kesegala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran syi’ah Ismailiah. Kegiatan ini menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah di Afrika dan kemudian berpindah ke Mesir.[9]
 







5.    Puncak Kejayaan dan kemunduran kerajaan Fatimiyah
a.      Kejayaan
Wilayah kekuasaan dinasti Fatimiyah (909M-1171M) meliputi Afrika Utara, Mesir dan Suriah. Dinasti ini mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Al-Aziz. Kebudayaan berkembang pesat pada masa dinasti Fatimiyah, yang ditandai dengan berdirinya masjid Al-Azhar. Masjid ini berfungsi sebagi pusat pengkajian Islam dan ilmu penegtahuan. Dinasti Fatimiyah berakhir setelah Al-Azid, khalifah terakhir dinasti Fatimiyah jatuh sakit.[10]
1.      Bidang Administrasi
Periode dinasti Fatimiyah menandai era baru sejarah bangsa Mesir. Administrasi kepemerintahan dinasti Fatimiyah secara garis besar tidak berbeda jauh dengan administrasi dinasti Abasiyah, sekalipun pada masa ini muncul beberapa jabatan yang berbeda khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan keduniaan maupun spiritual. Khalifah berwenang mengangkat dan sekaligus menghentikan jabatan-jabatan dibawahnya.
2.      Kondisi sosial
Mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat dan penuh perhatian kepada urusan agama nonmuslim. Pada masa Al-Aziz bahkan mereka lebih diuntungkan daripada umat Islam dimana mereka ditunjuk mnduduki jabatan-jabatan tinggi di istana.





Dinasti Fatimiyah berhasil dalam mendirikan sebuah negara yang snagat luas dan peradaban yang berlainan semacam ini di dunia Timur. Hal ini sangat menarik perhatian karena sistem administrasinya yang sangat baik, aktivitas artistik, luasnya toleransi religius, efisiensi angkatan perang dan angkatan laut, kejujuran pengadilan, dan terutama perlindungannya terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
3.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan kesusastraan
Sumbangan dinasti Fatimiyah dalam kemajuan ilmu pengetahuan tidak sebesar sumbangan Abbasiyah di Baghdad dan Ummayah di Spanyol. Diantara khalifah Fatimiyah adalah tokoh pendidikan dan orang yang berperadaban tinggi. Al-Aziz termasuk diantara khalifah yang mahir dalam bidang syair dan mencintai kegiatan pengajaran. Ia telah mengubah masjid agung Al-Azhar menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi.
Khalifah Fatimiyah mendirikan sejumlah sekolah dan perguruan, mendirikan perpustakaan umum dan lembaga ilmu pengetahuan. Dan Al-Hikmah merupakan prakakas terbesar untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah Fatimiyah pada umumnya juga mencintai berbagai seni termasuk seni arsitektur. Masjid agung AL-Azhar dan AL-Hakim menandai kemajuan arsitektur zaman Fatimiyah.[11]








b.      Kemunduran
Kemunduran dinasti Fatimiah inidisebabkan oleh beberapa fakor sebagai berikut: 
1.      Figur Khalifah yang lemah
Dalam sejarah Khalifa Fatimiah yang pernah mengalami kejayaan terdapat beberapa khalifah yang dianggap sebagai figur yang lemah. Kelemahan ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah diangkat dalam usia yang relatif muda. Ada pula kelemahan itu karena khalifah terlena dengan kemewahan istana serta melakukan sikap-sikap yang sewenang-wenang dan cenderung amoral, yang menyebabkan ketidaksukaan masyarakat terhadap khalifah Fatimiah khususnya kepada kahlifahnya.
Terdapat beberapa khalifah yang diangkat dalam usia muda diantaranya Al-Hakim yang diangkat dalam usia 11 tahun. Siakp kesewenangan Al-Hakim ditunjukan dengan kebenciannya kepada orang-orang Mesir sendiri, Al-Hakim memberi tempat orang-orang asing yang tidak jelas moralnya untuk mengurusi masalah-masalah pemerintahan.
2.      Perebutan Kekuasaan di Tingkat Istana
Sebagai akibat dari diangkatnya khalifah pada usia yang muda mengakibatkan peranan wazir menjadi sangat penting dan kompetetif, sehingga perebutan kekuasaan antar wazir tak terhindarkan lagi. Antar wazir berlomba saling menjatuhkan diantara para wazir sendiri.







3.      Konflik Ditubuh Militer 
Pada saat Al-Aziz menjabat sebagi khalifah keempat, dia membuat kebijakan untuk merekrut orang-orang Turki dan Negro. Kebijakan ini dilakukan untuk mengimbangi kekuasaan para pegawal istana yang telah terlanjur membesar yang mereka ini sebagian besar berasal dari suku Barbar yag terkenal keras. Ternyata, rekrutmen ini menimbulkan kemelut didalam tubuh militer dan antara mereka terus-menerus terjadi perselisiahan yang melemahkan kekuasaan Fatimiah.
4.      Bencana Alam Berkepanjangan
Faktor lain yang ikut andil dalam melemahkan eksistensi Khalifah Fatimiah adalah bencana alam. Pada masa Al-Muntashir, selam tujuh tahun (1065-1072 M), Mesir ditimpa musibah kelaparan akibat kekeringan,  demikian pula penyakit merajalela kemana-mana. Musibah ini tentu mengganggu kondisi ekonomi di pemeritahan Fatimiah.
5.      Keterlibatan Non-Islam dalam Pemerintahan
Diantara sekian banyak khalifah Fatimiah yang terkenal memiliki andil dalam memajukan dinasti Fatimiah adalh Al-Aziz. Diantara kebijakan Al-Aziz adalah sering memberikan pos-pos penting dan strategis kepada oarang-orang non-Islam, kkebijakan ini ternnyata menimbulkan kecemburuan, kejengkelan, dan bahkan kemarahan diaklangan kaum Muslimin.[12]







6.    Perang Salib
Perang salib (The Crusades War) adalah serangkaian perang Agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Eropa terhadap Islam Asia. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci Kristen di duduki Islam sejak 632 M, seperti di Suriah, Asia kecil, Spanyol, dan Sicilia. Militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol yang  menunjukan bahwa perang ini suci dan bertujuan membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang Islam.[13]
a.    Faktor Terjadinya Perang Salib
     Secara umum ada tiga faktor utama terjadinya perang salib itu, yaitu faktor agama, faktor politik, faktor ekonomi.
1.    Faktor Agama
Pada tahun 417 H dinasti saljuk dapat merebut Bait al-Maqdis dari dinasti Fatimiyah yang berkedudukan di Mesir. Sejak itu, penguasa menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana peraturan itu dirasakan sangat menyulitkan mereka.
Untuk mendapat keleluasaan umat kristen untuk dapat ziarah suci ke Baitul Maqdis itulah Paus Urbanus II berseru untuk melakukan perang suci yang dikenal dengan perang salib. Bagi orang-orang Kristen, dengan melakukan ziarah ke Baitul al-Maqdis itu akan dapat menghapuskan dosa dan memperoleh kabahagiaan abadi. Pada tahun 1095 M Paus Urbanus II berpidato dikalangan kaum Kristen dengan pidato yang memukau yang menggema keseluruh penjuru Eropa. Inilah yang membakar semangat umat Kristen Eropa untuk melakukan perang suci bagi mereka.
Dalam hal ini Paus dibantu oleh seorang pendeta sebagai juru propagandanya, bernama Peter Pertapa. Dari apa yang dilakukan oleh Paus dan Peter berhasil membangkitkan fanatisme uamat Kristen Eropa dengan terhimpunnya suatu kekuatan besar yang bertumpah ruah yang memasuki kota Konstantinopel pada tahun 1097 M kemudian mereka melakukan serangkaian peperangan besar terhadap umat Islam dan mereka berhasil merebut Yerusalem tahun 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya Godfrey.
2.    Faktor Politik
Selain faktor Agama, faktor politik juga cukup kental sebagai penyebab terjadinya perang salib ini. Yaitu terutama sejak dinasti Saljuk dapat meluaskan wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Bizantyum setelah pertempuran Manzikart tahun 1071 M telah mengancam kota Konstantinopel sendiri, sehingga kaesar Alexius I terpaksa meminta bantuan Paus Urbanus II dan raja-raja Eropa Barat untuk melakukan peperangan yang kemudian mereka sebut perang suci itu.
Pada sisi lain, di tubuh dinasti Saljuk terjadi perpecahan disamping juga adanya bahaya kelaparan dan wabah penyakit pada masa Khalifah al-Mutanshir, turut menguntungkan kaum salib mendapatkan kesuksesannya merebut Bait al-Maqdis, tanah suci mereka.
3.    Faktor ekonomi
Faktor ekonomi dimaksud adalah bahwa para pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Veneria, Genoa dan Pisa berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang disepanjang pantai timur dan selat Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu, mereka rela menanggung sebagian dana perang salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka.[14]


b.      Periode Dalam Perang Salib
Perang salib terjadi dalam tiga periode yaitu:
1.      Periode pertama
Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 15 Juni 1097 M mereka berhasil menaklukan Nicea dan tahun 1098 M menguasi Raha (Edessa). Disini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiocha dan mendirikan kerajaan latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait al-Maqdis (15 Juli 1099 M) dan mendirikan kerajaan latin III dengan rajanya Godfrey.
2.      Periode kedua
Jatuhnya Yerussalem ketangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lion Hart raja Inggris, dan Phillip Augustus raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah al-Din, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan Latin.
 Pada tanggal 2 Nopember 1192 M dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan perjanjian Shulh ar-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu.






3.      Periode ketiga
Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Pada tahun 1219 M mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari Ayyubiyah waktu itu Al-Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Frederick, isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al-Malik Al-Kamil melepasakan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin disana dan Frederic tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syiria.
Dalam perkemabngan berikutnya, Palestina dapat direbut kambali oleh kaum Muslimin tahun1247 M, dimasa pemerintahan Al-Malik Al-Shalih penguasa Mesir selanjutnya.[15]
c.       Akibat Dari Perang Salib
Perang salib akhirnya dimenangkan oleh umat Islam, namun demikian umat Islam mengalami kerugian yang banyak karena peperangan tersebut terjadi diwilayah umat Islam. Selain itu juga orang-orang Kristen memperoleh keuntungan dan pengalaman yang cukup berarti dari kebudayaan dan peradaban Islam, misalnya mengetahui kemajuan dunia intelektual di wilayah Islam, industri, irigasi, persenjataan, dan lain-lain.
 Selanjutnya dalam bidang militer, dunia barat menemukan persenjataan dan teknik  berperang yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Di dalam masyarakat Islam, peperangan salib itu lebih dikenal sebagai perang politik, sedangkan bagi masyarakat Kristen Eropa tetap menganggap bahwa perang salib adalah perang Agama.[16]

C.    PENUTUP
a.       Kerajaan Islam di Spanyol
Spanyol diduduki Islam pada masa khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Ummayah yang berpusat di Damaskus. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan yang paling berjasa memimpin satuan pasukan ke Spanyol. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
b.      Kemunduran Dinasti Ummayah di Spanyol
Bahwa sepeninggalan Hakam II, tidak ada khalifah yang cakap. Mereka tidak dapat menghentikan krisis politik dalam negeri yang sedang menggejala. Umat Islam tidak mengembangkan harta kekayaan tersebut secara baik, yang mengakibatkan merosotnya income negara. Perselisihan antara kaum indu Selain sebab-sebab diatas, terdapat sebab-sebab eksternal yakni serangkaian serangan kekuatan suku-suku Kristen di wilayah Spanyol Utara.
c.       Kontribusi ilmu pengetahuan
1.        Filsafat
2.        Sains
3.        Ilmu Agama
4.        Bahasa dan Sastra
d.      Perang Salib
      Perang salib (The Crusades War) adalah serangkaian perang Agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Eropa terhadap Islam Asia. Militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol yang  menunjukan bahwa perang ini suci dan bertujuan membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang Islam.



DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah

Ali, K. 1996. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Fu’adi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam dirasah islamiyah II. Yogyakarta: Teras

Imam, Fu’adi. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Teras

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada







[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2011), hlm. 87
[2] Ibid., hlm. 90
[3] Imam Fu’adi, Sjarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 25-26
[4] K. Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 477-480 
[5] Ibid., hlm. 478-480
[6] Imam Fu’adi, Op.Cit., hlm. 47-56
[7] Ibid., hlm. 1
[8] K. Ali, Op.Cit.,  hlm. 489
[9]Ibid.,  hlm. 490
[10] Samsul Munir Arifin, Sejarah Peradaban islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 254
[11]Ibid., hlm. 264-268
[12]Imam Fu’adi, Op.Cit., hlm. 9-15
[13]Ibid., hlm. 231
[14] Imam Fu’adi, Op.Cit., hlm.113-116
[15]Badri  Yatim, Op.Cit., hlm. 76-79
[16]Imam Fu’adi, Op.Cit., hlm. 123-124

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DEFINISI JUAL BELI (BA'I)

Fiqh Muamalah